Tuberkulosis: Gejala, Dampak Sosial, dan Pencegahan

Sekawan Jember
18 Jun 2024
...

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang terutama menyerang paru-paru namun juga dapat mempengaruhi organ lain seperti pleura, kelenjar limfe, dan tulang. Penyakit ini merupakan ancaman serius, terutama di negara berkembang, dan bisa menyerang berbagai usia, termasuk anak-anak dan lansia dengan sistem kekebalan tubuh lemah. Pada tahun 2020, tercatat 10 juta kasus TBC dengan 1,5 juta kematian di seluruh dunia. Stigma dan diskriminasi yang kuat terhadap penderita TBC menyebabkan isolasi sosial dan penurunan kualitas hidup mereka. Gejala TBC meliputi batuk berdahak lebih dari tiga minggu, demam, berkeringat di malam hari, penurunan berat badan, kelelahan, nyeri dada, dan batuk berdarah. Pada anak-anak, gejala mungkin termasuk batuk persisten, penurunan berat badan, demam berkepanjangan, dan kelelahan. TBC laten, dimana bakteri ada di dalam tubuh namun tidak menyebabkan gejala, tidak menular tetapi bisa menjadi aktif jika tidak diobati. Dampak sosial: TBC sangat signifikan, termasuk stigma dan diskriminasi, isolasi sosial, kehilangan pekerjaan dan pendapatan, gangguan pendidikan, perubahan hubungan sosial, dan dampak psikologis seperti stres dan depresi. Untuk mengurangi dampak sosial negatif TBC, diperlukan upaya terpadu yang mencakup edukasi masyarakat, dukungan psikososial, kebijakan tempat kerja yang inklusif, dan komunitas dukungan. Upaya pencegahan melibatkan pemberian TPT kepada kontak dekat penderita TBC aktif, pengendalian infeksi, ventilasi yang baik, dan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). PHBS meliputi promosi kesehatan, praktik hidup bersih, menjaga kebersihan lingkungan, nutrisi yang baik, dan imunisasi untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyebaran TBC. Dukungan dari komunitas seperti kelompok Sekawan’s TB di Jember juga sangat penting untuk membantu penderita TBC merasa diterima dan mendapatkan dukungan yang diperlukan.


PENDAHULUAN

Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Bakteri tersebut sering ditemukan dan menginfeksi organ paru-paru sehingga menyebabkan TB Paru, namun juga dapat menyerang organ lainnya (TB ekstra paru) seperti pleura, kelenjar limfe, tulang, dan organ paru lainnya. TBC merupakan penyakit menular yang berbahaya dan dapat menyerang siapa saja melalui udara. Penyakit yang menahun ini dapat menyerang manusia dengan kisaran usia 15-35 tahun atau bahkan lansia juga banyak yang menjadi korban keganasan penyakit ini. TBC, bukan penyakit keturunan dan bukan disebabkan oleh kutukan. TBC adalah salah satu dari 10 penyebab kematian utama di seluruh dunia. Pada tahun 2020, diperkirakan ada 10 juta orang jatuh sakit TBC dan 1,5 juta orang meninggal akibat menderita penyakit ini dan menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama di negara-negara berkembang. Anak-anak, remaja, bahkan lansia yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah berisiko tinggi terkena TBC, (WHO, 2020). 

TBC telah ada selama berabad-abad dan telah memainkan peran penting dalam sejarah manusia. Bukti TBC telah ditemukan pada mumi Mesir kuno dan kerangka penduduk asli Amerika. Penyakit ini juga disebutkan dalam karya sastra dan seni dari berbagai budaya. Stigma terkadang juga diterima oleh penderita TBC baik dari kerabat dekat sampai masyarakatnya, sehingga menyebabkan penderita TBC terisolasi dan tidak berfungsi sosial dalam masyarakat. Kontak dekat dengan pengidap TBC termasuk orang yang tinggal bersama atau menghabiskan waktu lama dengan pengidap TBC aktif memiliki risiko tinggi tertular. Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti orang dengan HIV/AIDS, diabetes, atau kanker, lebih berisiko terkena TBC. Anak-anak dan orang tua lebih berisiko terkena TBC dibandingkan orang dewasa. Malnutrisi adalah orang yang kekurangan gizi juga bisa menjadi berisiko terkena TBC. Maka dari itu, menerapkan pola hidup sehat dan menjaga kebersihan demi kesehatan sangat diperlukan untuk bisa terbebas dari penyakit ini. Tetap waspada dimanapun tempatnya bisa digunakan sebagai opsi untuk lebih berhati-hati dari penyakit ini, karena kesejahteraan diri merupakan kunci kebahagiaan seseorang.


GEJALA PENDERITA TBC
Gejala paling umum yang dialami penderita TBC adalah batuk berdahak selama 3 minggu atau lebih dengan diikuti gejala lain seperti demam, berkeringat dimalam hari, penurunan berat badan yang membawa dampak signifikan, kelelahan apabila melakukan suatu aktivitas bahkan aktivitas yang tergolong ringan, nyeri dada, hingga batuk berdarah. Adapun gejala TBC pada anak anak yang sedikit berbeda pada orang dewasa yaitu batuk persisten selama lebih dari 2 minggu, berat bada mengalami penurunan dalam 2 bulan atau gagal tumbuh, demam terus menerus selama lebih dari 2 minggu, anak tampak lemas (malaise) dan kurang aktif dari biasanya. Namun, penting dicatat bahwa tidak semua orang yang terpapar bakteri TBC akan mengembangkan penyakit itu. Orang yang terpapar TBC laten, yang berarti mereka memiliki bakteri TBC di dalam tubuhnya, tetapi tidak merasakan sakitnya. Orang dengan TBC laten ini tidak menular kepada orang lain.

EFEK SAMPING OBAT DAN KELUHAN PASIEN
Efek dari konsumsi obat dan juga keluhan yang pasien TBC biasanya kebanyakan dari penderita merasakan seluruh badannya pegal-pegal atau linu, kaki menjadi sakit untuk berjalan karena merasa kebas bahkan terdapat pasien yang berjalan menggunakan sandal dan sandal itu terlepas mereka tidak merasakannya, nafasnya mulai mulai memendek atau mudah capek dan lemas ketika beraktivitas. Kulit menghitam, hal ini sangat normal terjadi karena peningkatan pigmen warna menju warna gelap dan jika sudah selesai pengobatan maka kulit penderita TBC akan kembali seperti semula. Adapun pasien yang selama pengobatan dulu telinganya berdenging dan nyeri, terasa gatal dikulit, dan yang paling umum terjadi adalah kesulitan untuk tidur nyenyak. Adapun yang merasakan lutut nyeri, nafsu makan menjadi berkurang, terasa mual hingga makanan yang dimakan dimuntahkan kembali, ketika batuk kering terasa panas dan sakit. Keluhan lain yang pasien alami adalah ketika menginjak lantai dengan debu kasar terasa sakit hingga tangannya seperti kesetrum, mata menjadi mengalami kekaburan saat melihat, kaki membengkak. 

Terdapat juga pasien yang tidak mengalami efek samping obat sehingga tidak mengalami keluhan apapun karena asupan makanan yang tercukupi dan teratur dalam mengonsumsi buah dan sayur. Di iringi dengan kepatuhan minum obat dan tidak pernah mengeluh karena memiliki semangat yang tinggi untuk bisa sembuh dari penyakit TBC merupakan awal yang baik menuju kesembuhan yang maksimal.

DAMPAK SOSIAL BAGI ORANG YANG TERJANGKIT TBC 
Tuberkulosis (TBC) tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik penderitanya, tetapi juga memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan sosial mereka. Berikut adalah beberapa dampak sosial yang sering dialami oleh orang yang terjangkit TBC:
1. Stigma dan Diskriminasi
Stigma terkait TBC masih sangat kuat di banyak masyarakat. Orang yang terdiagnosis TBC seringkali dihindari oleh teman, keluarga, dan masyarakat karena ketakutan akan penularan. Diskriminasi ini bisa menyebabkan penderita merasa terisolasi dan rendah diri, yang pada gilirannya dapat memengaruhi kesehatan mental mereka.
2. Isolasi Sosial
Penderita TBC, terutama yang aktif dan menular, sering disarankan untuk mengisolasi diri atau dirawat di fasilitas kesehatan khusus selama masa pengobatan. Isolasi ini dapat menyebabkan rasa kesepian dan terputus dari interaksi sosial yang normal, mengurangi dukungan emosional dari orang-orang terdekat.
3. Kehilangan Pekerjaan dan Pendapatan
Banyak penderita TBC menghadapi tantangan dalam mempertahankan pekerjaan mereka karena harus sering absen untuk menjalani pengobatan atau karena kebijakan perusahaan yang tidak memperbolehkan mereka bekerja selama masa infeksi. Hal ini dapat menyebabkan hilangnya pendapatan dan berdampak negatif pada kesejahteraan ekonomi mereka dan keluarga.
4. Gangguan Pendidikan
Anak-anak dan remaja yang terinfeksi TBC mungkin harus melewatkan sekolah untuk waktu yang lama, yang mengganggu proses belajar mereka. Selain itu, stigma terkait TBC bisa menyebabkan mereka dijauhi oleh teman-teman sekolah, menambah tekanan emosional dan sosial.
5. Pengaruh pada Hubungan Sosial
Orang dengan TBC sering kali mengalami perubahan dalam hubungan sosial mereka. Mereka mungkin merasa malu atau cemas tentang penyakit mereka, yang bisa memengaruhi interaksi mereka dengan teman-teman dan keluarga. Pasangan atau anggota keluarga dekat mungkin merasa khawatir tentang risiko penularan, yang dapat menciptakan jarak emosional.
6. Dampak Psikologis
Ketidakpastian tentang kesembuhan dan masa depan, ditambah dengan stigma dan isolasi sosial, dapat menyebabkan stres, depresi, dan kecemasan pada penderita TBC. Gangguan kesehatan mental ini bisa memperburuk kondisi fisik mereka, membuat proses penyembuhan menjadi lebih sulit.

Oleh karena itu, untuk mengurangi dampak sosial negatif TBC, diperlukan upaya terpadu dari berbagai pihak:
- Edukasi masyarakat digunakan untuk meningkatkan kesadaran tentang TBC, cara penularan, dan pencegahannya untuk mengurangi stigma dan diskriminasi.
- Dukungan Psikososial, menyediakan layanan konseling dan dukungan psikologis bagi penderita TBC dan keluarga mereka.
- Kebijakan tempat kerja yang inklusif, mengembangkan kebijakan yang melindungi hak-hak pekerja dengan TBC, termasuk cuti sakit yang memadai dan dukungan untuk kembali bekerja.
- Komunitas dukungan, membentuk kelompok dukungan di komunitas untuk membantu penderita TBC merasa diterima dan mendapatkan dukungan dari sesama. Seperti komunitas Sekawan’s TB yang ada di Jember. Komunitas ini hadir untuk membersamai, memotivasi, dan memberi dukungan penuh kepada orang yang sedang terkena penyakit TBC atau orang yang sudah sembuh dari TBC sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.

UPAYA PENCEGAHAN
TPT diberikan kepada orang yang berisiko tinggi terkena TBC, seperti orang yang kontak dekat dengan pengidap TBC aktif. Pengendalian infeksi penting digunakan untuk mencegah penyebaran bakteri TBC yaitu dengan menutupi mulut dan hidung saat batuk atau bersin. Ventilasi yang baik di rumah dan tempat kerja membantu mencegah penyebaran bakteri TBC. PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) adalah pendekatan menyeluruh yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat melalui perubahan perilaku. PHBS bisa dilakukan dengan promosi kesehatan yang mencakup informasi akurat dan edukatif tentang TBC kepada masyarakat luas, seperti misalnya memberikan pengetahuan tentang gejala TBC, cara penularannya, dan langkah-langkah pencegahan yang efektif. Bisa juga dengan cara menerapkan hidup bersih dan sehat yang dimulai dari mencuci tangan secara teratur dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah bersin dan batuk karena hal ini dapat membantu mengurangi risiko penularan TBC dari satu orang ke orang lain. Adapun dengan menjaga kebersihan lingkungan yang merupakan faktor utama dalam pencegahan penyakit TBC, termasuk pengelolaan limbah yang tepat dan sanitasi yang memadai. Masyarakat yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat dianggap lebih mampu melawan TBC. Maka dari itu, perlunya nutrisi yang baik dan bergizi untuk meningkatkan kesehatan secara menyeluruh. Imunisasi juga bisa dijadikan opsi agar mencegah berbagai penyakit menular yang bisa menyerang tubuh.

KESIMPULAN
Berbagai dampak, upaya pencegahan, dan gejala dari TBC memainkan peran penting untuk kita sebagai pandangan orang yang ingin hidup dengan terhindar dari penyakit. Penyakit memang selalu mengintai kita, namun ketika kita sudah memiliki kesadaran penuh alangkah baiknya menerapkan pola hidup sehat, tetap menjaga kebersihan dimanapun berada demi kesehatan dan keberlanjutan hidup yang di impikan oleh semua orang.


Daftar Pustaka:
Lestyaningrum, A. D. & Anardani S. (2017). Rancangan Bangun Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Tuberkulosis (TBC) dengan Metode Forward Chaining. Doubleclick: Journal of Computer and Information Technology, Vol 1(1) 29-38.
Syahwana, M. R. & Simanjorang, R. M. (2020). Sistem Pakar Untuk Mendiagnosis Penyakit Tuberculosis Menggunakan Metode Bayes pada Puskesmas Petumbukan. Jurnal Media Informtika (JUMIN), Vol 1(2) 73-82.

Penulis : Vivi Indah Kusuma Dewi